Selamat Datang di Dusun Ilmu

Silahkan mencari ilmu sebanyak- banyaknya. Mudah,cepat, dan gratis.

Ilmu Pengetahuan Alam

Mengetahui segala fenomena yang terjadi di alam kita dan mengambil pelajarn darinya.

Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kebahasaan

Memudahkan hubungan antar sesama manusia dengan ilmu sosial dan bahasa.

Teknologi itu Penting

Dengan teknologi informatika, yang jauh menjadi dekat.

Agama Islam

Penyejuk Hati, Penentram Jiwa

Ayo Berbagi Ilmu

Berbagi Ilmu Cerdaskan Sesama. Klik gambar ini. dan bagikan ilmumu

Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Hukum Bacaan Lam Jalalah

ا •Yang dimaksud dengan lafal jalalah adalah gabungan huruf alif-lam-lam-ha'
•Yang dimaksud di sini adalah huruf lam kedua.
•Cara membaca lam jalalah ada dua macam:
  • Tafkhim (تفخيم)
Cara membaca bacaan tafkhim adalah dengan bibir sedikit kemuka dan daun lidah
Di tempelkan pada langit-langit atas. bacaan tafkhim terjadi manakala lafal jalalah
Terletak sesudah harokat fathah atau dommah. Lam jalalah dalam contoh ini harus
Di baca tafkhim.
  • Tarqiq (تر قيق)
Cara membaca  tarqiq yaitu dengan menarik bibir sedikit mundur sehingga
Menjadi agak meringis.Bacaan tarqiq manakala lafal jalalah terletak sesudahharakat kasrah. Tetapi Huruf lam yang bukan pada lafal jalalah, baik didahului huruf yang bertanda
Baca kasrah, fathah maupun dommah, tetap harus di baca tarqiq atau di baca
tipis
CONTOH
  • TAFKHIM =   ان نصر ا لله      ا ني عبد ا لله
  • TARQIQ 
1. Bukan padalafal jalalah = لِلَّذِيْنَ اَ مَنُوْ ا - يَا اّيُّهَا الَّذِيْنَ اَ مَنُوْ ا -- وَ لَهُ ا لْحَمْدُ
2. Khusus pada lafal jalalah = بِسْمِ ا للهِ ِللهِ رَ بِّ ا لْعَا لَمِيْنَ وَ ِلله ِا لْحَمْدُ

Hukum Bacaan Ro'

1. Hukum Bacaan Ra’
  • Tafkhim (تفخيم)
Artinya: Tebal, berat atau di besarkan atau di tebalkan.
  • Tarqiq (تر قيق)
Artinya: Tipis, ringan atau di tipiskan atau di ringankan
  • Jawazul wajhain
Artinya: boleh salah satu dari keduanya (tarqiq atau tafkhim).
 A. TAFKHIM


Cara membacanya yaitu dengan bibir sedikit kemuka atau monyong.
Bacaan tafkhim Terjadi manakala :
  1. huruf ra' itu sendiri dibaca fathah, contoh:  اِلَي رَبِّهِمْ 
  2. huruf ra' itu sendiri dibaca dommah, contoh: رُزِقْنا
  3. huruf ra' berharakat sukun dan terletak setelah huruf yang berharakat fatah, contoh: ا ر حا مهن
  4. huruf ra' berharakat sukun dan terletak setelah huruf yang berharakat dommah, contoh: تُرْ جَعُوْ نَ
  5. Apabila dalam keadaan waqaf atau di Waqafkan , sedangkan huruf yang mendah Uluinya  bertanda baca fathah atau dommah, contoh: وَ يُوَ لُّوْ نَ ا لدُّ بُرَ
  6. Apabila dalam keadaan di waqafkan, sedangkan di antara huruf ra Dengan huruf bertanda baca fathah atau dommah itu terdapat huruf Yang bertanda baca sukun. contoh: بَشَرَ رٍ كّا لْقَصْر
  7. apabila dalam keadaan waqaf atau di Waqafkan . Sedangkan huruf sebelumnya Alif atau wawu yang bertanda baca sukun. contoh: بِذ َا تِ ا لصُّد ُوْ رِ
  8. Huruf ra’ berharakat sukun dan terletak sesudah huruf berharakat kasrah, tapi diikuti oleh Huruf isti’la’* yang bukan berharakat kasrah, contoh: فُرْ قَةٌ 
* huruf isti’la’ adalah:  ظ ق ط غ خ ص ض
 
B. TARQIQ 
Cara membacanya yaitu dengan menarik bibir sedikit mundur sehingga agak meringis.
Bacaan tarqiq terjadi manakala: 
  •    Huruf ra’ itu sendiri di baca kasroh, contoh: فَرِ يْقٌ فِي ا لْجَنَّةِ
  • Huruf ra’ di baca sukun dan terletak setelah huruf yang di baca kasroh, Dan sesudahny a bukan huruf isti’la’, contoh  فِرْ عَوْ نَ             مِرْ يَةٍ
  • Apabila dalam keadaan waaf atau di waqafkan, sedangkan huruf sebelumumnya bertanda baca kasrah. Contoh هُوَ ا لْكَا فِرُ     مِنْ نَا صِرٍ           تَسْتَكْثِرُ Atau dalam keadaan waqaf atau di waqafkan, sedangkan di antara Huruf ra dengan huruf yang bertanda baca kasrah terdapat huruf bertanda  baca sukun, contoh: باِ لسِّحْرِ
  •  Apabila dalam keadaan di waqafkan, sedang huruf sebelumnya huruf  ya ,Yang bertanda baca sukun, contoh:  ,وَ اِ لَي ا لله ِا لْمَصِيْرُ        عَلَي كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
besok akan di sambung dengan hukum bacaan lam, terima kasih
  Lebih Lengkapnya Download Presentasinya di sini

Makhorijul Huruf

Hal yang mendasar dalam ilmu tajwid adalah makhorijul huruf. Makhorijul Huruf adalah tempat - tempat keluarnya huruf. Tempat-tempat keluarnya huruf hijaiyah (29) itu memang banyak yang berpendapat, namun dari sekian pendapat yang paling banyak diikuti oleh ulama qurro’ dan ahlul ada’ adalah pendapat Syekh Kholil bin Ahmad an-Nahwiy (Guru Imam Sibaweh). Adapun menurut beliau Makhorijul Huruf Hujaiyah itu ada 17 tempat, dan bila diringkas ada 5 tempat, yatu; Al-Jauf (lubang /rongga mulut), Al-Halqu (tenggorokan / kerongkongan), Al-Lisanu (lidah), Asy-Syafatain (dua bibir) dan Al-Khoisyum (janur hidung)..
Marilah kita mulai...
a. Al-Jauf (الجوف), artinya rongga mulut dan rongga tenggorokan. Yaitu tempat keluarnya huruf hijaiyah yang terletak pada rongga mulut dan rongga tenggorokan. Bunyi huruf yang keluar dari rongga mulut dan rongga tenggorokan ada tiga macam, yaitu ; alif ( ا ), wawu mati ( وْ ) dan ya’ mati ( يْ ) dengan penjelasan sebagai berikut : 1) Alif dan sebelumnya ada huruf yang difathah Contoh : مَالَا غَوَى 2) Wawu mati dan sebelumnya ada huruf yang didhommah Contoh :قُوْلُوْا 3) Ya’ mati dan sebelumnya ada huruf yang dikasrah Contoh : حَامِدِيْنَ
 b. Al-Halqu (الحلق), artinya tenggorokan / kerongkongan
Yaitu tempat keluar bunyi huruf hijaiyah yang terletak pada kerongkongan / tenggorokan. Dan berdasarkan perbedaan teknis pelafalannya, huruf-huruf halqiyah (huruf-huruf yang keluar dari tenggorokan) dibagi menjadi tiga bagian yaitu ;  
1.Aqshal halqiy (pangkal tenggorokan), yaitu huruf hamzah ( ء )dan ha'(ه )  
2Wasthul halqiy (pertengahan tenggorokan), yaitu huruf ha’ ( ح ) dan ’ain(  ع ) 
3. Adnal halqiy (ujung tenggorokan), yaitu huruf ghoin ( غ ) dan kho’ ( خ )  
c. Al-Lisan (اللسان), artinya lidah Bunyi huruf hijaiyah dengan tempat keluarnya dari lidah .Terdapat 18 huruf, yaitu : Berdasarkan delapan belas huruf itu dapat dikelompokkan menjadi 10 makhraj, yaitu sebagai berikut :
1) Pangkal lidah dan langit-langit mulut bagian belakang, yaitu huruf Qof (ق). Maksudnya bunyi huruf qof ini keluar dari pangkal lidah dekat dengan kerongkongan yang dihimpitkan ke langit-langit mulut bagian belakang.  
2) Pangkal lidah bagian tengah dan langit-langit mulut bagian tengah, yaitu huruf Kaf (ك). Maksudnya bunyi huruf kaf ini keluar dari pangkal lidah di depan makhraj huruf qof, yang dihimpitkan ke langit-langit bagian mulut bagian tengah. “Dua huruf tersebut ( ق ) dan ( ك ), lazimnya disebut huruf LAHAWIYAH ( لهويّة ), artinya huruf-huruf sebangsa anak mulut atau sebangsa telak lidah.”  
3) Tengah-tengah lidah, yaitu huruf Jim ( ج ), Syin ( ش ) dan Ya’ ( ي ). Maksudnya bunyi huruf-huruf tersebut keluar dari tengah-tengah lidah tepat, serta menepati langit-langit mulut yang tepat di atasnya. “Tiga huruf ini lazimnya disebut huruf SYAJARIYAH ( شجريّة ), artinya huruf-huruf sebangsa tengah lidah.”  
4) Pangkat tepi lidah, yaitu huruf Dlod ( ض ). Maksudnya bunyi huruf Dlod ( ض ) keluar dari tepi lidah (boleh tepi lidah kanan atau kiri) hingga sambung dengan makhrojnya huruf lam, serta menepati graham. “Huruf Dlod ( ض ) ini lazimnya disebut huruf JAMBIYAH (حنبيّة), artinya huruf sebangsa tepi lidah.”
5) Ujung tepi lidah, yaitu huruf Lam (ل). Maksudnya bunyi huruf Lam (ل) keluar dari tepi lidah (sebelah kiri/kanan) hingga penghabisan ujung lidah, serta menepati dengan langit-langit mulut atas.  
6) Ujung lidah, yaitu huruf Nun (ن). Maksudnya bunyi huruf Nun (ن) keluar dari ujung lidah (setelah makhrojnya Lam (ل), lebih masuk sedikit ke dasar lidah dari pada Lam (ل)), serta menepati dengan langit-langit mulut atas.  
7) Ujung lidah tepat, yaitu huruf Ro’ (ر). Maksudnya bunyi huruf Ro’ (ر) keluar dari ujung lidah tepat (setelah makhrojnya Nun dan lebih masuk ke dasar lidah dari pda Nun), serta menepati dengan langit-langit mulut atas. “Tiga huruf tersebut di atas (Lam, Nun dan Ro’), lazimnya disebut huruf DZALQIYAH (ذلقية), artinya huruf-huruf sebangsa ujung lidah.”  
8). Kulit gusi atas, yaitu Dal (د), Ta’ (ت) dan Tho’ (ط). Maksudnya bunyi huruf-huruf tersebut keluar dari ujung lidah, serta menepat i dengan pangkal dua gigi seri yang atas. “Tiga huruf tersebut lazimnya disebut NATH’IYAH (نطغية), artinya huruf-huruf sebangsa kulit gusi atas.“  
9) Runcing lidah, yaitu huruf Shod (ص), Sin (س) dan Za’ (ز). Maksudnya bunyi huruf-huruf tersebut keluar dari ujung lidah, serta menepati ujung dua gigi seri yang bawah. “Tiga huruf tersebut lazimnya disebut huruf ASALIYAH (أسلية), artinya huruf-huruf sebangsa runcing lidah.”  
10) Gusi, yaitu huruf Dho’ (ظ), Tsa’ (ث) dan Dzal (ذ). Maksudnya huruf-huruf tersebut keluar dari ujung lidah, serta menepati dengan ujung dua gigi seri yang atas. “Tiga huruf ini lazimnya disebut huruf LITSAWIYAH (لثوية), artinyahuruf sebangsa gusi.”  
d. Al-Syafatain, artinya dua bibir Yaitu tempat keluarnya huruf hijaiyah yang terletak pada kedua bibir.Yang termasuk huruf-huruf syafatain ialah wawu (و), fa’ (ف), mim (م) dan ba’ (ب) dengan perincian sebagai berikut :
1) Fa’ (ف) keluar dari dalamnya bibir yang bawah, serta menepati dengan ujung dua gigi seri yang atas.  
2) Wawu, Ba, Mim (و , ب , م) keluar dari antara dua bibir (antara bibir atas dan bawah). Hanya saja untuk Wawu bibir membuka, sedangkan untuk Ba dan Mim bibir membungkam. “Empat huruf tersebut di atas lazimnya disebut huruf SYAFAWIYAH, artinya huruf-huruf sebangsa bibir.”
e. Al-Khaisyum, artinya pangkal hidung Yaitu tempat keluarnya huruf hijaiyah yang terletak pada janur hidung. Dan jika kita menutup hidung ketika membunyikan huruf tersebut, maka tidak dapat terdengar. Adapun huruf-hurufnya yaitu huruf-huruf ghunnah mim dan nun dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Nun bertasydid(نّ) 
2)Mim bertasydid( مّ)  
3)Nun sukun yang dibaca idghom bigunnah, iqlab dan ikhfa’ haqiqiy
4) Mim sukun yang bertemu dengan mim (م) atau ba (ب)
lebih jelasnya ada pada gambar berikut:


Hukum mempelajari Tajwid

Hukum mempelajari ilmu Tajwid

http://statis.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2013/04/membaca-al-quran.jpg
Hukum mempelajari ilmu tajwid sebagai disiplin ilmu adalah Fardlu kifayah atau merupakan kewajiban kolektif. artinya, mempelajari ilmu tajwid secara mendalam tidak diharuskan bagi setiap orang, tetapi cukup diwakili oleh beberapa orang saja. Namun, jika dalam suatu kaum tidak ada seorang pun yang mempelajari ilmu tajwid, maka berdosalah kaum itu.
Adapun hukum membaca alqur'an dengan menggunakan aturan tajwid adalah fardlu 'ain atau merupakan kewajiban pribadi, karenanya apabila seseorang membaca al Qur'an dengan tidak menggunakan ilmu tajwid, hukumnya berdosa.
Dalam Kitab tajwid fii ahkamit tajwid dijelaskan:
"Tidak ada perbedaan pendapat bahwa mempelajari ilmu tajwid hukumnya fardlu kifayah, sementara mengamalkannya (ketika membaca alqur'an) hukumnya fardlu 'ain bagi setiap muslim dan muslimah yang telah mukallaf."
Syeikh Ibnu Jazariy dalam syairnya mengatakan:
"Membaca Al Qur'an dengan tajwid hukumnya wajib. siapa saja yang membaca al Qur'an tanpa memakai ilmu tajwid, hukumnya dosa. karena sesungguhnya Allah menurunkan Al Qur'an berikut tajwidnya. Demikianlah yang sampai kepada kita dari Nya."

Dasar Hukum wajibnya membaca al Qur'an dengan Tajwid

Dasar Hukum nya ada dua yaitu dari Al qur'an dan sunnah. Mari kita baca dasar hukumnya satu persatu dibawah ini:
1. Berdasarkan Al Qur'an
Allah SWT berfirman:
".....Dan bacalah Al Qur'an dengan Tartil." (QS. Al Muzzammil:4)
Ayat ini memerintahkan kita agar membaca al Qur'an dengan tartil (secara perlahan-lahan) sehingga membantu pemahaman dan perenungan kita terhadap Al Qur'an. Demikianlah cara nabi dalam membaca Al Qur'an sebagaimana yang dijelaskan oleh Aisyah ra bahwa Rosululloh saw membaca Al Qur'an dengan tartil sehingga membaca panjang setiap lafadz yang seharusnya memang dibaca panjang (begitu juga sebaliknya).
senada dengan ayat diatas adalah:
"Dan Al Qur'an itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia"  (QS Al isra :106)
"Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk membaca Al Qur'an karena hendak cepat-cepat menguasainya atas tanggungan, kamilah yang mengumpulkannya (didadamu) dan membuatmu pandai membacanya"  (QS Al Qiyamah:16-17)
2. Hadits Nabi saw
"Dari Aisyah ra kepadanya pernah disampaikan bahwa ada orang yang dapat membaca Al Qur'an dalam satu malam sekali atau dua kali khatam. Aisyah berkata: mereka membaca tapi sebenarnya tidak. Aku pernah bersama Rosululloh saw satu malam penuh, Rosululloh saw hanya sempat membaca surat Al Baqoroh, Ali imron dan An nisaa'. Bila bertemu dengan ayat adzab Rosululloh saw meneruskan bacaannya hingga beliau berdoa memohon perlindungan. begitupula beliau tidak meneruskan bacaan bila bertemu dengan ayat yang menggembirakan hingga beliau berdoa serta mengharapkannya" (kitab Tafsir ibnu katsir jilid IV hal 46).

"Dari Abi Hamzah ia berkata: aku pernah berkata kepada ibnu abbas bahwa aku membaca dengan cepat dan dapat menamatkan al Qur'an dalam tiga hari. Ibnu Abbas menjawab: Membaca surat al Baqoroh semalam dengan memperhatikan isinya dan tartil lebih baik dan lebih aku sukai daripada yang engkau katakan." (kitab tafsir Ibnu Katsir jilid IV hal 46)

"Dari Khudzaifah bahwa Rosululloh saw bersabda: Bacalah Al Qur'an denan laggham arab. Imam Thobroni dan Baihaqi dalam kitabnya menambah (dan suaranya). Berhati-hatilah dengan laggham orang fasik dan berdosa besar. sesudahku nanti akan ada kelompok orang yang melagukan al Qur'an bagai nyanyian seperti nyanyian digereja dan meratap. Bacaan mereka tidak keluar batas kerongkongan saja. Hati mereka dan orang-orang yang mengaguminya telah jauh menyimpang dari kebenaran." (Nihayatul Qoulil mufid hal 8)

Dalil-dalil diatas secara tidak langsung memerintahkan kita untuk membaca al Qur'an dengan Tartil. Ini artinya kita dituntut untuk mempelajari ilmu Tajwid. karena dengan ilmu Tajwid lah kita tahu panjang pendeknya bacaan dan huruf-huruf yang dibaca. lebih afdhol lagi kalau kita paham makna ayat al Qur'an yang kita baca.

Tujuan Mempelajari ilmu Tajwid

Untuk memahami tujuan mempelajari ilmu Tajwid, Marilah kita membaca seperti apa yang diterangkan oleh Syekh Muhammad Al mahmud dalam kitabnya Hidayatul Mustafid halaman 4 dan kitab Nihayatul Qoulil Mufid hal 13, yaitu:
"Tujuan mempelajari ilmu Tajwid adalah agar dapat membaca ayat-ayat  Al Qur'an secara betul (fasih) sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rosululloh saw, juga agar dapat memelihara lisan dari kesalahan-kesalahan ketika membaca kitab Allah ta'ala (Al Qur'an)"